Showing posts with label Travel. Show all posts
Showing posts with label Travel. Show all posts

June 03, 2014

Stop by Cimory on The Valley, Bawen

Today Mas and I went to Semarang (from Yogyakarta) for having my photograph and finger print taken at IDP Semarang. Actually we have gone there few days ago but the officer said that their system was offline and yes, we have to come another day. My bad, I didn't call the office before going there.

And there we were today, arrived at IDP Semarang office at Simpang Lima after riding a motorcycle for about 3 hours. The business took only 5 minutes. Because the office was not convenient for us to sit taking a rest, we decided to go to look at the IELTS Test venue, The Bright English at Imam Bonjol Street. Then we took a rest at a shady pavement, enjoying snacks we brought from home. Mas and I talked about going to Marina Beach or Masjid Agung but those seem quite far so we decided to come back to Yogyakarta and stop by Cimory on The Valley at Bawen. Yaaay!

Why was it interesting? Cimory was milk. That's what I thought. Mas and I looove milk. I love plain milk the most, but any flavor addition is lovable too. Haha. On our jammed way from Imam Bonjol Street to Cimory on The Valley, I googled Cimory Bawen. Some writings said it was a very nice place, it was not only a restaurant, but also playground and shop. I was happier. :))

After almost an hour, Mas and I arrived at Cimory on The Valley, together with children of a picnic bus. Nice, we're not alone. Hehe. From the entrance door, there was a shop at the left side, a restaurant at the right side and a lovely playground ahead. There were a pond of Arapaima fish, milch cows, deers, rabbits, turkeys and birds. It was a mini zoo. Oh, there were some playing booth too for the children. A very nice place compared to the jammed road in front of this place.

Afterwards, Mas and I prayed at the musholla and then having meals at the restaurant. Quite expensive for us. We were having a German Sausage (33,000), a plain fresh milk (5,000) and a blueberry yoghurt milkshake (22,000). There were 5% service charge and 10% PB1 (I didn't know what this was). That's all, nice place with nice bill. :P

April 01, 2014

Bonus on English Village? No, I prefer to call it Kampung Inggris. (March 10-23, 2014)

Bali House - The Signage

 Bali House - The Alleyway In

Ketan Susu (Rp. 2,500.00) - Ada menu ketan bubuk dan ketan campur juga. :)

Alun-alun Pare - Sate O2 alias Sate Bekicot
Sate O2 yang saya maksud adalah sate yang dibungkus dengan kertas, harganya Rp. 12,000.00/bungkus. Saya hanya beli setengahnya karena nggak yakin bisa menghabiskannya (tapi habis kok ternyata haha).

Surowono - Terowongan
Tiket masuk Rp. 1,000.00 dan tarif pemandu (min. 10 orang) Rp. 1,000.00/orang. Surowono ini dekat kok, hanya sekitar 5 km dari Kampung Inggris.

Surowono - Sendang Drajat

Yap, kolam ini adalah Sendang Drajat.

Surowono - Candi
Tarif masuknya sukarela saja.



Bromo - Gunung Penanjakan
Saya berangkat ke Bromo bersama teman-teman. Jumlahnya 15 orang dan iurannya Rp. 120,000.00/orang untuk transportasi, wisata Bromo dan makan pagi. Murah meriah alhamdulillah. :))

January 24, 2014

Kelayakan Transportasi - Akas Asri

Selasa sore tanggal 21 Januari 2014 lalu, saya berencana pulang dari Rogojampi, Banyuwangi ke Yogyakarta. Seperti sebelumnya, saya menunggu bis di pertigaan pohon beringin Rogojampi. Seingat saya, bis akan lewat beberapa kali di antara pukul 16.00-19.00 WIB. Saya mulai menunggu sekitar pukul 16.00, di "halte" pohon beringin sudah ada beberapa orang yang sama seperti saya, menunggu bis dengan tujuan Yogyakarta. Sekitar setengah jam menunggu, berhembus kabar bahwa hari ini hanya akan ada satu bis yang beroperasi karena supirnya libur. Sekitar pukul 18.00, seorang bapak datang dan membawa kabar bahwa bis akan tiba pukul 18.45. Bis satu-satunya pada hari ini. Sekitar pukul 19.00, bis pun tiba dan kami pun naik bis. Saya membayar Rp. 102.000,00 untuk satu orang dengan tujuan terakhir Yogyakarta.

Beberapa menit kemudian, keanehan mulai terjadi. Kursi penumpang sudah penuh tapi bis tetap mempersilakan penumpang baru untuk naik ke bis. Bangku-bangku plastik mulai digelar di lorong bis. Seingat saya lorong bis penuh dengan penumpang yang duduk di bangku plastik. Saya tidak tahu mereka harus bayar berapa, sama seperti saya yang duduk di kursi normal atau kurang dari itu.

Bis ini adalah bis yang menempuh perjalanan menengah-panjang. Dari Rogojampi ke Yogyakarta butuh waktu 13,5 jam. Dan sebagian besar penumpang memang menempuh perjalanan hingga akhir untuk sampai ke tujuan mereka masing-masing. Hari itu, dengan hati dongkol, saya menyimpulkan bahwa bis ini adalah bis sombong (setahu saya hanya ada dua "merek" bis yang melayani rute ini) dan tidak layak. Penumpang harus menyerah pada keadaan karena pilihan mereka sangat terbatas. Sampai kapan pemerintah akan membiarkan rakyatnya terpaksa menyerah seperti itu?

December 27, 2013

Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui

Sejak bertahun-tahun yang lalu, saya sangat ingin ke Bali. Saya sering berpikir, kapan ya saya bisa ke Bali, kesempatan seperti apa ya yang bisa membawa saya ke Bali. Dan (sepertinya) sekitar 3 tahun lalu, saya bisa ke Bali karena sebuah kesempatan bagus datang menghampiri saya. Seorang teman menawarkan ikut acara trip kampusnya ke Bali. Saya hanya perlu bayar (sepertinya) Rp. 600,000,00 karena mereka butuh orang untuk memenuhi kuota bisnya. Iyalah, daripada seatnya kosong, panitia bisa nombok. Dan berangkatlah saya dengan riang gembira. Haha. Acara kunjungannya hanya sehari di Surabaya, selain itu wisata di Bali, saya ingat sekali ketika kami berkunjung ke tempat Pocari Sweat. Their office is sooo cool. Nice and colorful.

Oke selanjutnya Malang, Bandung, Malaysia dan Singapura. Perasaan saya terhadap tempat-tempat ini sama seperti perasaan saya terhadap Bali. Saya sudah pernah ke Bandung sih, tapi sudah lama dan saya rasa saat itu saya masih terlalu muda untuk bisa mengingat Bandung. Singkat cerita, saya bisa ke Malang karena ikut acara piknik biro di kampus tempat saya magang. Begitu juga Bandung, saya bisa ke sana dalam rangka acara piknik di tahun berikutnya. Malaysia dan Singapura, saya ingin mencicip kota yang teratur. Itu yang utama.

Alhamdulillah. Saya hanya punya keinginan yang sederhana yang sering saya pikirkan dan Allah menjawabnya. Saya hanya perlu menunggu. Semoga segera untuk Karimunjawa, Bali (lagi), Inggris, Venesia, Perancis, Ambon, Bunaken, Wakatobi, Raja Ampat, Maladewa daaan lainnya. Amin Ya Rabb. Sami'allahu li man hamidahu. Yang saya paham dari kalimat tersebut adalah, Allah mendengar (orang) yang memuji-Nya.

September 30, 2013

Transportasi Umum

I am dreaming of nice public transportation. Here in Yogyakarta. Saya cinta kota kecil yang cantik ini. Karena kecil dan cantik lagi menarik, maka saya pikir alangkah senangnya jika transportasi umumnya memadai.

Ketika saya dan keluarga pergi ke Kuala Lumpur beberapa bulan lalu, saya ingat persis, saya cuma dua kali naik taksi. Yang pertama, dari depan Petronas Twin Tower ke KL Tower, itupun setelah saya baca peta dengan seksama dan saya pikir kami bisa ke KL Tower menggunakan Go KL City Bus yang gratis tis tis tis. Saya menghampiri supir Go KL City Bus yang sedang parkir di depan Petronas Twin Tower dan bertanya apa saya bisa ke KL Tower dengan bisnya. Dia bilang tidak bisa. Saya bingung, menurut peta sepertinya bisa pakai rute Go KL City Bus lalu berjalan kaki sedikit ke gerbang KL Tower. Berjalan kaki doesn't matter at all. Saya bisa lihat puncak KL Tower dari tempat saya berdiri. Sepertinya dekat, ya sudahlah naik taksi saja. Tapi seperti yang sudah pernah saya baca, supir taksi di KL rata-rata not nice. They are tricky. Ishhh. Menyebalkan.

Naik taksi yang kedua, terpaksa banget karena kami kehabisan bis turun dari Genting ke KL, bis Go Genting kalo nggak salah. Salah saya sih, sebelum berangkat seharusnya kami sekalian beli tiket pulangnya. Tapi habis dan saya tahu itu. Saya tetap berangkat walaupun nggak tahu nanti pulangnya gimana. Haha. Akhirnya naik taksi deh.

Selain itu, kami selalu naik Go KL City Bus yang gratis tis tis tis itu, monorel dan kereta (KTM Komuter). Saya nggak pernah naik bis umum karena memang nggak sempat cari informasi tentang rute, tarif dan lain-lainnya. Untuk kebutuhan turis first timer kayak saya, rute Go KL City Bus itu udah cukup banget, bisa mengantar kami ke tempat-tempat standar yang biasa dikunjungi turis.

Saya ingin hidup dengan transportasi umum yang seperti itu. Ada, nyaman, aman dan terjangkau. What do you think? :)

September 27, 2013

September 06, 2013

Pantai Jogan, Gunung Kidul (September 5, 2013)

Sudah pernah dengar nama pantai ini? Atau bahkan sudah pernah berkunjung ke sini juga? Just enjoy these photos. You may read the article about this beautiful Pantai Jogan here. :)

Plang penunjuk arah ke Pantai Jogan. Sekitar 0,5 km dari Pos Retribusi Pantai Siung. Saya sempat menanyakan arah pada penduduk setempat, beliau menyebut pantai ini sebagai Pantai Jogan atau Pantai Grojogan (air terjun).

Foto ini saya ambil di tangga batu karang yang dipagari bambu menuju ke bawah.


Can you spot the waterfall? Musim kemarau sih, jadi airnya hanya sedikit. :)

Sweep panorama mode.


Ibu-ibu ini sedang mencari rumput laut untuk diolah menjadi lauk. Tapi bukan jenis rumput laut yang biasa diolah untuk minuman ya. :)

Air terjun dari bawah.


Ada banyak batu-batu merah. Lovely.


Looks like Davy Jones. Hehe.



Angin bertiup cukup kencang, lihat permukaan airnya.


Pink and Black.



Watch your steps, jangan sampai mereka terinjak. :)


Ini pink keunguan lho. Warnanya memang kurang ditangkap dengan baik oleh kamera ponsel saya.


Pernah main bola bekel? Ini dia penghuni cangkangnya. :)


All photos taken by my Xperia Sola camera.

July 04, 2013

Goa Cerme (June 30, 2013)

"Dail ngajakin ke Goa Cerme," kata Mas saya. Itu awalnya. Oke fine. Kita berangkat.


Saya kenal Goa Cerme dari pendengaran saya (saya nggak tau kapan saya pernah denger, tapi saya yakin pernah) dan dari kebiasaan saya baca papan penunjuk arah. Saya sering baca papan yang menunjukkan arah ke Goa Cerme, but I really have no idea how is it. Saya baru sekali ke goa, Goa Pindul di Gunung Kidul, goanya tinggi dan dialiri air sungai, jarak dari permukaan air ke langit-langit goa mungkin sekitar 15 m (bukan seperti goa yang saya bayangkan semasa saya kecil, lorong batu yang bisa jadi tempat tinggal).

Pagi-pagi sebelum berangkat, saya coba gugling tentang Goa Cerme (saya kurang sreg kalo pergi ke suatu objek tanpa gugling dulu, hehe). Saya dapat informasi bahwa untuk mencapai mulut Goa Cerme kita harus menaiki tangga setinggi 759 m. Goa ini panjangnya 1,5 km dan digenangi air yang tingginya bisa mencapai 1,5 m (hah? bisa kelelep dong?). Well saya menyimpulkan kayaknya kunjungan ini nggak akan terlalu menguras tenaga dan saya pasti basah tapi nggak full basah.

Sekitar jam 09.30 saya dan teman-teman berangkat dari Krapyak Wetan. Nyampe Goa Cerme jam berapa ya lupa, haha, tapi nggak jauh kok, mungkin sekitar 30 menit aja. Menjelang lokasi, jalanan nanjak lumayan curam. Motor temen saya sempet bunyi nggak enak dan melorot ke bawah. Tapi itu emang motornya sih yang kurang fit. Beberapa menit kemudian kami sampai di pos petugas Goa Cerme. Bapak petugasnya menjelaskan bahwa objek wisata Goa Cerme ini berada di wilayah administrasi Kabupaten Bantul dan Gunung Kidul dan dikelola oleh keduanya. Jadi sekarang kita di Bantul dan nanti saat keluar dari goa  kita akan berada di Gunung Kidul. Sounds cool, hehe. Tapi tapi tapi, kondisi tersebut bikin tarif masuknya jadi double. Rp. 2,250,- dari Pemkab Bantul dan Rp. 2,500,- (yang ini saya agak lupa sih persisnya berapa) dari Pemkab Gunung Kidul. Pemandu (wajib) Rp. 30,000,- dan sewa headlamp Rp. 5,000,- (kami sewa 3 headlamp). Tas kami titipkan di pos petugas, yang kami bawa hanya 1 tas selempang berisi 1 botol air minum dan 2 ponsel yang dibungkus kresek.

Sebelum mulai, kami sempat foto-foto sebentar di mulut goa dan berdoa bersama. Oh iya, saya nggak tau mana tangga setinggi 759 m yang dimaksud dalam artikel yang saya baca saat gugling tentang Goa Cerme. Ada sih tangga, tapi pendek. Yak lanjut aja, dari mulut goa, kami menuruni beberapa anak tangga dan blupp, langsung ketemu air. Seinget saya, waktu itu tingginya sekitar selutut. Oh iya lagi, ada beberapa anak kecil yang ikut bersama rombongan kami, mereka ini penduduk sekitar goa, tapi ya takut (dan kayaknya memang nggak boleh) kalo nyusur goa tanpa pemandu.

Dasar goa ini kadang berupa kerikil lembut dan kadang berupa batu coklat yang agak tajam. Jadi saya sarankan pakai sandal yang aman (jangan pake sandal jepit) atau sepatu sekalian. Saya pake sandal yang bolong depannya, kalo kepentok batu rasanya lumayan nyuut nyuut. Di dalam goa, seperti biasa, ada stalaktit dan stalagmit. Seinget saya, stalaktit itu yang mengarah ke bawah, sedangkan stalagmit itu yang mengarah ke atas (pls comment kalo salah). Kalo liat tetes air yang menggantung di stalaktit, saya penasaran pengen nowel, tapi saya tau itu nggak boleh, jadi cuma saya tiup dikit sampai tetes airnya bergoyang, hehe. Di beberapa sudut goa, saya sempat lihat ada sesajen-sesajen. Menurut penjelasan pemandu kami, goa ini memang kadang dipakai untuk bersemedi. Lanjut jalan, ada bunyi grojog grojog air deras gitu. Semuanya langsung pada semangat maju, penasaran sama sumber bunyi itu yang kayaknya sih air terjun. And yes, memang air terjun. Tingginya sekitar 2,5 m. And guess what? Rute selanjutnya kita musti menaiki air terjun itu. Rasanya keren banget, hahaha. 

Beberapa menit kemudian, mulai ada yang nanya, "masih jauh nggak, Pak?" Udah mulai capek nih. Kami istirahat sebentar di air yang dangkal. Matiin headlamp dan sengaja ngobrol gelap-gelapan. Trus lanjut lagi, capek sih, mana kaki berasa bonyok karena sering nendang batu. Mendekati ujung goa, kami harus sering jalan merunduk karena langit-langit goa makin rendah. Duh kadang kejedot juga, haha. Tapi yah, seperti kata kakak sepupu saya, tenang aja, hal-hal yang berat itu pasti punya akhir kok. Dan akhirnya kami melihat cahaya selain cahaya headlamp. Cahaya matahari. Rasanya amazing. :-D

Keluar dari mulut goa, kami harus berjalan sedikit untuk bisa balik ke pos yang tadi. Lumayan sambil ngeringin baju. Hehe. Nyampe pos, kami pesan minum dulu sambil nyomot-nyomot gorengan secara tidak terkendali. Ada mbak-mbak minta kami ngisi kuesioner dari pemerintah tentang wisata goa. Saya isi dengan senang hati. Semoga bisa dibaca dan bermanfaat. Amin.

Selesai mandi dan shalat, kami pulang dan mampir makan Sate Klathak (satu porsi Sate Klathak dan minum seharga Rp. 13,000,-). Sedaaap. Lebih sedap lagi karena kami lumayan capek. Saya pun pulang ke rumah dengan hati yang senang dan perut yang kenyang. Hari Minggu yang indah. Alhamdulillah. :-D


May 14, 2013

KL & Sing #2 (The Day. 4 April 2013)

Air Asia berangkat dari Terminal 3 Soetta. Kami harus naik shuttle bus yang tersedia free di Soetta. Bisnya bagus, cuma selalu sesak gara-gara barang-barang penumpang yang nggak sedikit dan nggak mini. Hehe. Ternyata jauh juga perjalanan ke Terminal 3. Terminal ini obviously baru. Desainnya modern dan terang, beda banget sama terminal 1 dan 2.

Masuk terminal 3, saya menuju ke sebelah kanan untuk drop bagasi. Saya sudah prebook bagasi 20 kg untuk kami berempat (keren, haha). Selesai drop bagasi dan bayar airport tax (Rp. 150,000x4), kami menuju lantai atas dan langsung menuju imigrasi. Selesai imigrasi, barang bawaan kabin kami diperiksa. Nggak mulus nih. Saya sudah tahu peraturan kabin Air Asia, terutama tentang liquidnya. Tapi tetep aja ada yang kelewat, hehe. Air minum kemasan tidak boleh dibawa. Jadi diletakkan di dekat petugas dan bisa kami minum selama masih berada di ruang tunggu. Ludes deh botolnya. Tinggal tumbler punya saya dan Ibu saya. Padahal saya sudah bilang bawa tumbler yang banyak, tapi Ibu saya ngertinya cuma bawa air minum yang banyak. Oya satu lagi, face wash saya kemasannya ukuran 150 ml. Walaupun isinya cuma setengah kemasan, tetep aja nggak boleh dibawa karena melewati batas kemasan maksimal yaitu 100 ml. Yah dengan berat hati terpaksa saya relakan face washnya. :(

Kami makan siang dulu sambil menunggu waktu boarding. Menjelang pukul 13.00 kami sudah siap dan tak lama setelahnya dipanggil untuk boarding. Dapet auto seat di row 1 alias hotseat. Kursi yang kepalanya merah itu. Hehe. Oke, flight 2 jam dan kami pun sampai di LCCT, nggak wow karena ya emang Low Cost Carrier Terminal sih, bandaranya nggak premium. Masuk gedung, kami antri imigrasi, cukup ramai tapi antrian berjalan lancar dan cepat. Selesai imigrasi, kami mengklaim bagasi, semua lengkap, lalu mampir counter DIGI dan beli kartu sim untuk telepon dan internet seharga RM 26. Setelah itu kami melewati bagian custom dan langsung disuruh lewat saja tanpa diperiksa sama sekali. Sebelum keluar gedung bandara, saya beli tiket Aerobus LCCT ke KL Sentral seharga RM 8 untuk dewasa dan RM 4 untuk anak-anak (RM 8x3+RM 4). Keluar gedung, kami berjalan ke arah kiri sekitar 500 meter menuju bus. Busnya lumayan bagus, tapi tidak terlalu bersih. Di atas bus, pihak bus menjual air mineral ukuran tanggung seharga RM 1, saya beli 1 botol.

Oya, saya belum booking tempat untuk menginap. Sebenarnya saya sudah booking di sebuah penginapan via email, tapi setelah baca lebih banyak review tentang tempat tersebut, saya simpulkan tempat itu pengap dan tidak bersih. Yah lebih baik saya cari tempat lain yang bersih walaupun tidak istimewa. Ada satu penginapan yang saya lihat fotonya sederhana namun asri. Namanya Sahabat Gusethouse di Jalan Sahabat, dekat dari Jalan Alor. Tapi untuk booking, saya harus bayar DP dulu, well the problem is saya nggak bisa bayar DP tersebut, karena saya nggak punya Credit Card ataupun rekening Paypal. Dan saya lagi males berurusan sama jasa-jasa tentang uang di dunia maya. Jadi, sebelum berangkat, saya sudah mencatat nomor telepon penginapan-penginapan yang saya incar, saya urutkan berdasarkan prioritas saya. On the top of the list is Sahabat Guesthouse. Saya telepon, dengan bahasa Inggris seadanya, saya menanyakan family room di Sahabat Guesthouse. Dan ternyata masih kosong. Alhamdulillah. Saya booking untuk 2 malam. Now how can I get there? Saya sudah simpan petunjuk arah ke Sahabat Guesthouse yang saya ambil dari website mereka.

Jadi setelah sampai di KL Sentral, pusat transportasi umum di KL, saya berjalan keluar KL Sentral, menyeberang jalan dan berjalan ke arah kanan menuju stasiun monorel KL Sentral. Stasiun monorel ini memang tidak menyatu dengan bangunan KL Sentral. Masuk stasiun monorel, ada loket tiket dan ada Ticket Vending Machine. Setelah celingukan sebentar, saya mencoba beli tiket monorel di vending machine. Tujuan Stasiun Monorel Bukit Bintang untuk 4 orang. Percobaan pertama gagal, sepertinya pecahan uang yang saya masukkan terlalu besar. Setelah mencoba lagi, akhirnya saya berhasil mendapatkan tiket berupa koin seperti koin kasino. Koin ini di-tap ke mesin agar bisa masuk ke platform dan disimpan lagi. Setelah menunggu sebentar, kereta pun datang dan kami masuk. Lumayan rame, tapi tentu saja tidak pengap karena kereta ini ber-AC. Sampai di Stasiun Monorel Bukit Bintang, kami turun dan harus memasukkan koin tiket tadi ke mesin agar bisa keluar dari platform.

Kami berjalan sekitar 10 meter menuju traffic light dan belok kiri, setelah itu belok kanan dan melewati Jalan Alor (pusat jajanan) di sisi kiri kami. Setelah menemukan Sevel di sudut pertigaan, kami belok kiri dan belok kanan di pertigaan pertama. Sahabat Guesthouse yang berwarna biru sudah terlihat. Agak capek juga karena jalannya sedikit menanjak. Setelah sampai, kami bayar penginapan RM 306 untuk 1 family room selama 2 malam dan RM 200 untuk 2 double room untuk malam terakhir kami di KL (kami berencana mampir ke Sing dan menitipkan barang di guesthouse).

Family room yang kami tempati tidak terlalu luas, tapi lumayan untuk kami berempat. Bersih, 2 double bed, kamar mandi yang cukup luas dan sebuah balkon kecil yang menghadap ke jalan. Setelah unpacking dan makan, Ibu dan Ayah saya sepertinya sudah sangat kelelahan. Saya dan Adik saya Memot berencana keluar sebentar ke Jalan Alor. Ibu saya agak ceramah hati-hati bla bla bla, as always, haha. Iya deh, yang penting boleh keluar. Kami berjalan menuju jalan Alor dan sempat foto-foto ujung KL Tower yang menyembul di antara gedung-gedung. Jalan Alor ternyata ramai sekali, penuh lampion di sepanjang jalan. Banyak nama-nama makanan yang saya nggak ngerti, jadi bingung. Memot saya belikan Turkey Ice Cream seharga RM 5, mahal memang, tapi cukup menarik lihat atraksi si penjual es krim. Selesai menyusuri Jalan Alor, kami berjalan pulang dan mampir beli sosis dan nugget di depan Sevel seharga RM 2,30. Kami mampir Sevel juga, beli razor seharga RM 1,10 dan yoghurt juga susu seharga RM 4. Kenyang deh, kekenyangan lebih tepatnya. Hehe. Sampai di guesthouse, siap-siap bobooo. Zzz.


To be continued, next Chapter, KL 1. :)

May 06, 2013

KL & Sing #1

Okey, jadi ceritanya bermula dari saya somehow, happily tersesat di forum traveller Kaskus. Larut dalam Field Report bermacam-macam negara, membayangkan diri saya yang melakukan perjalanan itu. Kok kayaknya asyik ya, haha. Saya baca thread Low Cost Carrier juga, ini menggugah banget nih, kaskusernya pada share dapet tiket cuma sekian sekian untuk rute sini-situ, sekian sekian untuk rute situ-sini. Wow, so I thought I could get one of that kind too. Okey, cek-cek website Air Asia (dari sekian LCC yang saya tahu, menurut saya Air Asia ini yang websitenya paling friendly), saya liatin promo-promo basi yang udah pada ludes. Menggiurkan, haha. Saya niatkan bikin paspor dulu, biar lebih semangat buat hunting tiket promo. Saya pulang ke rumah, sambil cengar-cengir bilang ke Ibu saya bahwa saya pengen bikin paspor.

"Emangnya Mbak mau ke mana?" Ibuku nanya.
"Nggak tau, hehe. Itu lho Ma, kan ada tiket yang bla bla," saya ceritakan rencana saya.
"Oya? Mama juga mau dong."

Yah jadilah saya dan Ibu saya bikin paspor. Nggak begitu ribet. Tapi perlu waktu sekitar 1 minggu, karena ada jarak 3 hari (seingat saya) untuk kemudian lanjut ke tahap wawancara. Biayanya sekitar Rp. 200,000-an. Saya agak payah nginget nominal yang beginian. Harap maklum, hehe.
Beberapa minggu berlalu. Akhirnya Air Asia ada promo free seats. Cek rute dan harganya, ngabarin Ibu saya. Akhirnya pilih rute Jakarta-Kuala Lumpur pp, hampir Rp. 300,000/org, saya beli untuk 4 orang, jadi hampir Rp. 1,200,000. Gimana cara bayarnya? Bisa pake credit card atau KlikBCA. Ada sih KlikBCA punya Mas saya, tapi tokennya rusak. Saya cari jasa beli tiket Air Asia di FJB Kaskus. Saya bikin deal, saya yang booking tiket, dia yang bayar. Kena fee berapa ya (kumat lagi), Rp. 100,000 atau Rp. 200,000 untuk 4 tiket itu, kalo saya inget-inget sekarang, kok fee-nya lumayan mahal ya, saya nggak nawar pula. Haha. Saya booking dan melunasi tiket tanggal 20 September 2012, untuk keberangkatan tanggal 4 April 2013. Kedengarannya lama banget ya? Tapi enggak juga sih, kadang-kadang saya lupa saya mau berangkat ke KL. Jadi santai aja.

Nyetel Menghitung Hari-nya Krisdayanti dulu. Oktober. November. Desember. Januari. Februari.
Maret, mulai siap-siap. Saya di Jogja dan Ibu saya di Bengkulu. Kami janjian untuk ketemu di Jakarta. Flight Jakarta-Kuala Lumpur kami jam 13.15. jadi biar nggak buru-buru, kami harus berangkat pagi dari kota masing-masing. Saya yang beli tiket-tiketnya (saya yang beli, tapi pake uang Ibu saya, hehe), Rp. 723,000 untuk saya Jogja-Jakarta pp dan Rp. 2,938,700 untuk Ibu, Ayah dan adik saya Bengkulu-Jakarta pp (berat di ongkos domestiknya, hehe).

To be continued, next chapter, The Day. 4 April 2013. :)